Options:

Kisah Joko Umbaran


Pada zaman dahulu, di sebuah desa yang subur di tanah Jawa, hiduplah seorang pemuda bernama Joko Umbaran. Ia bukan bangsawan, bukan pula orang kaya. Joko hanyalah anak seorang petani miskin yang hidup sederhana di pinggir hutan. Namun, di balik kesederhanaannya, Joko dikenal sebagai pemuda yang jujur, ringan tangan, dan berani membela kebenaran.

Sejak kecil, Joko terbiasa hidup prihatin. Ia membantu ayahnya di sawah dan ibunya mencari kayu bakar. Meski hidup serba kekurangan, Joko tidak pernah mengeluh. Ia percaya bahwa urip iku mung mampir ngombe, hidup hanyalah singgah sejenak untuk berbuat baik.

Ujian Kehidupan

Suatu hari, desa tempat Joko tinggal dilanda kekeringan panjang. Sungai mengering, sawah retak, dan hasil panen gagal total. Kepala desa yang serakah justru memanfaatkan keadaan. Ia menimbun bahan makanan dan memeras rakyat kecil.

Melihat penderitaan warga, Joko Umbaran tidak tinggal diam. Ia berkeliling desa, menguatkan hati rakyat, dan diam-diam membantu mereka yang kelaparan. Namun, perbuatannya sampai ke telinga kepala desa.

“Pemuda itu harus disingkirkan,” pikir sang kepala desa.

Dengan licik, Joko difitnah sebagai penghasut rakyat dan diusir dari desa.

Pengembaraan Joko Umbaran

Dengan hati tegar, Joko meninggalkan desanya. Ia mengembara dari hutan ke gunung, dari padepokan ke padepokan. Dalam pengembaraannya, Joko banyak belajar tentang ilmu kanuragan, laku prihatin, dan kebijaksanaan hidup dari para resi dan pertapa.

Suatu malam, di sebuah goa sunyi, Joko bertapa selama 40 hari 40 malam. Ia tidak meminta kekayaan atau kekuasaan, melainkan memohon agar diberi kekuatan untuk menolong sesama dan menegakkan keadilan.

Konon, tapa brata Joko diterima. Ia dianugerahi kesaktian yang membuatnya kebal terhadap niat jahat dan diberi kewibawaan yang besar.

Kembalinya Sang Pembela Rakyat

Beberapa tahun kemudian, Joko Umbaran kembali ke desanya. Desa itu kini semakin menderita di bawah kepemimpinan yang lalim. Dengan keberanian dan kebijaksanaannya, Joko menghadapi kepala desa.

Tanpa kekerasan berlebihan, Joko membuka kedok kejahatan sang pemimpin di hadapan rakyat. Kepala desa akhirnya dilengserkan, dan rakyat memilih Joko Umbaran sebagai pemimpin baru.

Namun, Joko menolak hidup mewah. Ia tetap hidup sederhana, dekat dengan rakyat, dan selalu mengingatkan:

“Kuwasa iku titipan, dudu duweke dhewe.”
(Kekuasaan itu titipan, bukan milik pribadi.)

Akhir Kisah

Di akhir hayatnya, Joko Umbaran menghilang secara misterius. Ada yang percaya ia moksa, ada pula yang mengatakan ia kembali mengembara untuk menolong desa-desa lain.

Nama Joko Umbaran pun dikenang sebagai simbol:

  • keberanian rakyat kecil,

  • kejujuran dalam kepemimpinan,

  • dan keteguhan hati dalam menghadapi ketidakadilan.

Masuknya Islam di Tanah Kediri

Pada masa kejayaan Kerajaan Kediri (abad ke-11–13 M), masyarakat Kediri dikenal sebagai penganut Hindu–Buddha yang kuat. Sungai Brantas menjadi urat nadi kehidupan—jalur perdagangan, budaya, dan peradaban. Justru dari jalur inilah benih Islam perlahan masuk ke Tanah Kediri.

Awal Kedatangan Islam

Sekitar abad ke-14 hingga ke-15 M, para pedagang Muslim dari Gujarat, Arab, dan pesisir Nusantara mulai singgah di wilayah Kediri melalui jalur Sungai Brantas. Mereka tidak hanya berdagang rempah, kain, dan logam, tetapi juga membawa akhlak, tata hidup, dan ajaran Islam yang ramah.

Penduduk Kediri tertarik bukan karena paksaan, melainkan karena:

  • Kejujuran para pedagang Muslim

  • Kesederhanaan hidup

  • Ajaran tauhid yang mudah dipahami

  • Sikap toleran terhadap budaya lokal

Islam pun mulai diterima oleh masyarakat pesisir sungai dan pusat-pusat perdagangan.

Peran Ulama dan Dakwah Kultural

Masuknya Islam semakin kuat ketika para ulama dan wali mulai berdakwah dengan pendekatan budaya. Salah satu tokoh penting yang berpengaruh di wilayah Kediri adalah Syekh Al-Wasil Syamsudin, yang dipercaya sebagai tokoh awal penyebar Islam di daerah ini.

Dakwah dilakukan melalui:

  • Seni dan tradisi lokal

  • Bahasa Jawa halus

  • Pengajian kecil di rumah-rumah

  • Keteladanan akhlak

Tradisi lama tidak dihapus, melainkan diislamkan. Upacara adat, tembang, dan simbol-simbol Jawa diberi makna Islami. Inilah yang membuat Islam cepat diterima tanpa konflik.

Masa Runtuhnya Majapahit

Runtuhnya Majapahit pada akhir abad ke-15 menjadi titik balik penting. Banyak bangsawan dan rakyat di wilayah Kediri yang kemudian memeluk Islam. Kekuasaan politik beralih ke kerajaan-kerajaan Islam di pesisir utara Jawa, seperti Kesultanan Demak, yang turut memberi pengaruh ke wilayah pedalaman, termasuk Kediri.

Kediri kemudian berkembang sebagai:

  • Pusat pendidikan Islam

  • Wilayah santri

  • Daerah yang kuat memegang tradisi keislaman bercorak Jawa

Jejak Islam di Kediri

Hingga kini, jejak masuknya Islam di Kediri dapat dilihat dari:

  • Makam-makam ulama kuno

  • Pesantren-pesantren tua

  • Tradisi selamatan, tahlilan, dan kenduri

  • Julukan “Kediri Kota Santri”

Islam di Kediri tumbuh sebagai agama yang menyatu dengan budaya, membentuk karakter masyarakat yang religius, santun, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong.

Kesimpulan

Masuknya Islam di Tanah Kediri bukan melalui pedang, melainkan melalui perdagangan, budaya, dan keteladanan akhlak. Inilah warisan berharga yang menjadikan Kediri hingga kini dikenal sebagai daerah religius yang damai dan berbudaya.

4 kewajiban orang tua terhadap anak

Empat kewajiban utama orang tua terhadap anak menurut Islam adalah memberikan nama yang baikmemberikan nafkah yang halalmemberikan pendidikan agama dan akhlak, dan menikahkan anak saat telah mampu. Dalil-dalil untuk kewajiban ini dapat ditemukan dalam berbagai ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW. 

1. Memberikan nama yang baik 

 إِنَّكُمْ تَدْعُونَ يَومَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

  • Dalil: Sabda Nabi Muhammad SAW, "Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka perbaguslah nama-nama kalian." (H.R. Abu Daud).
  • Penjelasan: Nama adalah doa. Orang tua berkewajiban memberikan nama yang baik yang mengandung makna positif dan menjadi doa baik bagi anak. 

2. Memberikan nafkah yang halal 

 وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَۗ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَاۚ لَا تُضَاۤرَّ وَالِدَةٌ ۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَۚ فَاِنْ اَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَاۗ وَاِنْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْٓا اَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآ اٰتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ 

 Artinya : Ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani, kecuali sesuai dengan kemampuannya. Janganlah seorang ibu dibuat menderita karena anaknya dan jangan pula ayahnya dibuat menderita karena anaknya. Ahli waris pun seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) berdasarkan persetujuan dan musyawarah antara keduanya, tidak ada dosa atas keduanya. Apabila kamu ingin menyusukan anakmu (kepada orang lain), tidak ada dosa bagimu jika kamu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dalil: Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 233 menyebutkan kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian anak, serta kewajiban ibu memberikan ASI.

  • Penjelasan: Kewajiban ini mencakup makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal yang halal dan baik. Pemberian nafkah harus sesuai kemampuan dan tidak boleh sampai menyengsarakan orang tua atau anak. 

3. Memberikan pendidikan agama dan akhlak 

رَبَّنَآ اِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيْعَادَࣖ

Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

  • Dalil: Surat An-Nisa ayat 9 menyerukan agar orang tua takut kepada Allah dan tidak meninggalkan anak-anak dalam kondisi lemah.
  • Penjelasan: Mendidik anak dengan ajaran agama, mengajarkan salat, membaca Al-Qur'an, serta membentuk akhlak dan adab yang baik adalah fondasi penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa dan bermoral. 

4. Menikahkan anak saat telah mampu 

وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

  • Dalil: Al-Qur'an surat An-Nur ayat 32 berisi perintah untuk menikahkan orang-orang yang masih sendiri, dan surat An-Nur ayat 32 secara khusus membahas kewajiban menikahkan anak-anak yang telah siap menikah.
  • Penjelasan: Ketika anak telah mencapai usia yang cukup dan mampu untuk menikah, orang tua berkewajiban untuk membantu dan memudahkan proses pernikahan mereka, termasuk mencarikan pasangan yang baik. 

Puisi Tentang Kesaktian Pancasila Versi empat Bait

Kesaktian Pancasila

Pancasila, dasar negara tercinta,
Lahir dari perjuangan jiwa merdeka,
Engkau kokoh tak tergoyahkan,
Penjaga bangsa sepanjang zaman.

Di medan juang darah tertumpah,
Pahlawan gugur tanpa menyerah,
Engkau saksi abadi sejarah,
Mengikat bangsa dalam satu arah.

Engkau pelita di tengah gelap,
Pemersatu di kala terpecah,
Benteng teguh penjaga nusantara,
Kesaktianmu hidup selamanya.

Kami generasi penerus bangsa,
Berjanji setia kepada Pancasila,
Menjaga persatuan, menegakkan cita,
Demi Indonesia jaya selamanya.

Puisi tentang kesaktian pancasila

 

Kesaktian Pancasila

Di bawah merah putih yang berkibar gagah,
Tertulis janji para pahlawan dengan darah,
Lima butir mutiara terpatri di dada bangsa,
Pancasila, cahaya abadi penuntun jiwa.

Engkau tak goyah diterpa badai sejarah,
Meski pengkhianatan datang menyusup resah,
Di setiap luka, engkau jadi penawar,
Di setiap pertempuran, engkau jadi dasar.

Kesaktianmu bukan sekadar kata,
Ia hidup dalam nadi anak bangsa,
Mengikat persatuan dalam keberagaman,
Menjadi benteng dari rongrongan kegelapan.

Wahai Pancasila, sakti dan mulia,
Engkau mercusuar di samudra nusantara,
Kami berdiri tegak, berjiwa merdeka,
Menjaga negerimu selamanya.

Jenis-Jenis Isi Sesajen lan Artine

 Artine saka jenis-jenis isi sesajen sing biasane ditemokake ing tradisi Jawa. Sesajen iku nduwèni makna simbolis, ora mung panganan utawa barang biasa, nanging ana teges lan filosofi. Mangkene artine:

  1. Tumpeng

    • Wujud sega gunung kerucut.

    • Tegese: pangajab supaya urip tansah munggah, luwih luhur, lan cedhak marang Gusti Allah.

  2. Ubo rampe jajan pasar (jenang, apem, wajik, lemper, dll.)

    • Simboling rasa syukur lan kerukunan.

    • Jenang/apem: nglambangake pangapura (apunan).

    • Wajik: lambang paseduluran sing lengket lan akrab.

  3. Bunga setaman (mawar, melati, kenanga, kantil, dll.)

    • Tegese kesucian, keharuman budi, lan pangurmatan marang leluhur.

  4. Kembang telon (mawar, kenanga, melati)

    • Nduweni makna telung unsur utama: cipta, rasa, karsa.

  5. Dupa / menyan

    • Asapé dianggep nyambungake jagad kasar (donya) karo jagad alus (roh, leluhur).

    • Lambang panyuwunan lan pangurbanan.

  6. Sajen rokok, kopi, teh, utawa arak

    • Wujud pangurmatan marang roh leluhur utawa tamu gaib, amarga dipercaya iku seneng diparingi.

  7. Pala kependhem (ketela, uwi, gembili, dsb.)

    • Nduwèni makna yen kabeh sing didhelikaké (kaya woh ing lemah) bisa dadi berkah lan rejeki kanggo manungsa.

  8. Pala gumantung (pisang, klapa, dll.)

    • Lambang rejeki sing iso digantung, gampang digayuh.

  9. Pala kesimpar (buah-buahan cilik kaya jeruk, salak, lombok)

    • Nduwèni arti rejeki sing sumebar lan akeh.

  10. Endhog (utuh utawa mateng)

    • Lambang kawitane urip, kesucian, lan kesempurnaan.

Joko Kendil

 


Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di lereng gunung, hiduplah seorang janda miskin yang hanya memiliki seorang anak laki-laki. Anak itu bernama Joko Kendil. Sejak lahir, tubuh Joko berbeda dari anak-anak lain. Ia kecil, bundar, dan bentuk tubuhnya mirip kendil (periuk tanah liat). Karena itulah orang-orang desa menertawakannya dan memanggilnya dengan sebutan Joko Kendil.

Meskipun tubuhnya aneh, hati Joko Kendil sangat baik. Ia rajin menolong ibunya, bekerja keras di ladang, dan tidak pernah marah ketika orang mengejeknya.

Suatu hari, ketika Joko Kendil beranjak dewasa, ia memberanikan diri untuk melamar putri raja yang terkenal cantik jelita. Tentu saja banyak orang yang menertawakan keberaniannya.

“Mana mungkin seorang seperti Joko Kendil bisa menikahi putri raja?” ejek mereka.

Namun, Joko Kendil tidak gentar. Ia menghadap ke istana dengan niat yang tulus. Ajaibnya, sang putri justru menerima lamaran Joko Kendil. Bagi sang putri, yang terpenting adalah hati yang tulus, bukan rupa luar.

Rakyat pun tercengang ketika mendengar kabar itu.

Malam sebelum pernikahan, terjadi sebuah keajaiban. Saat bulan purnama bersinar terang, tubuh Joko Kendil yang bundar tiba-tiba memancarkan cahaya. Seketika, wujudnya berubah menjadi seorang pemuda tampan dan gagah perkasa. Rupanya, selama ini Joko Kendil berada dalam kutukan, dan hanya cinta sejati yang bisa mematahkan kutukan itu.

Sang putri sangat bahagia, begitu pula ibunda Joko Kendil. Mereka hidup berbahagia dan dihormati oleh seluruh rakyat.

Pesan Moral Kisah Joko Kendil

  1. Jangan menilai orang dari rupa luarnya, karena hati yang tulus lebih berharga.

  2. Kesetiaan dan ketulusan cinta mampu mengalahkan segala kekurangan.

  3. Kerja keras dan sikap rendah hati akan membawa kebahagiaan.

Pandhuan cara nembang praktis

 

 Pandhuan cara nembang praktis Kepangku Kapang (Macapat Dhandhanggula lan Pangkur). Supados saged dipun praktekaken kanthi swara, sanajan tanpa gamelan dhisik.

A.Pandhuan Nembang Macapat

1. Dhandhanggula – Kepangku Kapang

  • Watak: alus, endah, cocok kanggo ngemu rasa katresnan lan pangajab.

  • Pathet: sléndro manyura.

  • Ciri: irama alus, suwuk (tutup) ing nada 2 (ro) utawa 1 (ji).

Cara nembang:

  1. Wiwiti nganggo swara 5 (ma) → ngluncur alus.

  2. Teteg (nahan swara) ing 6 (nem) nalika tekan tembung-tembung utama.

  3. Ngleleh (ngendhog swara) nalika pungkasan gatra ing a / i / é / u.

  4. Suwuk pungkasan tembang ing 2 (ro) kanthi alus, lir meneng.

2. Pangkur – Kepangku Kapang

  • Watak: gagah, semangat, nanging isih endah.

  • Pathet: sléndro manyura.

  • Ciri: irama luwih mantap, suwuk ing nada 6 (nem) utawa 5 (ma).

Cara nembang:

  1. Awali nganggo swara 6 (nem) kanthi mantap.

  2. Nalika tekan tembung-tembung gagah (“linuwih”, “manungsa”, “pepangkal kalbu”) tekanen nganggo 1 (ji) utawa 5 (ma) rada sereng.

  3. Tansah gawe alur munggah-mudhun (ndhuwur-ngerem) kaya gelombang.

  4. Suwuk pungkasan gatra ditutup kanthi 6 (nem) teges, lir mantap nanging isih lembut.

3. Tips Praktis Nembang

  • Ambegan (napas): ambegan mawa irama, aja kesusu.

  • Teteg & nuthuk: saben suku kata penting diteteg (ditekan swarane).

  • Suwuk: aja langsung mandheg, nanging lelehake swara kaya banyu mili.

  • Rasa: lebokna rasa — Dhandhanggula luwih romantis, Pangkur luwih semangat.


Dados, menawi panjenengan nyoba nembang:

  • Wiwit alus lan ngalir (kaya dolanan swara) ing Dhandhanggula.

  • Lajeng coba mantap, gagah, nanging enak dipangku ing Pangkur.

Macapat Pangkur: Kepangku Kapang

 

Watake Pangkur yaiku semangat, gagah nanging isih ngemu rasa endah.

Guru wilangan / guru lagu: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i

Kepangku kapang rasa suci linuwih (8a)

Sumebar ambara ngresep ing ati manungsa (11i)

Wengi sunaring lintang nyumurupi (8u)

Katresnan sejati (7a)

Ora kasandhung dene pepalang tumraping kalbu (12u)

Rasaning jagad endah (8a)

Gumelaring ati murni (8i)


(Laras Sléndro Manyura)

Guru wilangan / lagu: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i

1️⃣ Kepangku kapang rasa suci linuwih
🎵 5 6 1 2 | 3 2 1 6 5a

2️⃣ Sumebar ambara ngresep ing ati manungsa
🎵 5 6 1 2 3 | 2 1 6 5 3 2i

3️⃣ Wengi sunaring lintang nyumurupi
🎵 3 2 1 2 | 6 5 6 1u

4️⃣ Katresnan sejati
🎵 5 6 1 | 2 3a

5️⃣ Ora kasandhung dene pepalang tumraping kalbu
🎵 3 2 1 2 3 | 2 1 6 5 3 2u

6️⃣ Rasaning jagad endah
🎵 6 5 3 | 2 1a

7️⃣ Gumelaring ati murni
🎵 5 6 1 2 | 3 2i

Keterangan:

  • 1 = ji, 2 = ro, 3 = lu, 5 = ma, 6 = nem (sléndro).

  • a / i / u = guru lagu macapat.

  • Nada pungkasan saben gatra dicocogaken kaliyan guru lagu Pangkur.



Macapat Dhandhanggula: Kepangku Kapang

 Guru wilangan / guru lagu: 10i, 10a, 8é, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a


Kepangku kapang rasa tresna murni (10i) 

Lumebu ing ati rasa raharja (10a)

Wengi katon padhangé (8é)

Lintang sumunar (7u)

Sumirat rahsa suci (9i)

Katresnan tan owah (7a)

Langgeng selawase (6u)

Sumrambah donya (8a)

Gumelaring ati tansah rumeksa tresna (12i)

Dadi pepadang jiwangga (7a)

Kidung punika saged dipun tembangaken nganggo pathet Dhandhanggula.


(Notasi sléndro manyura)

1️⃣ Kepangku kapang rasa tresna murni
🎵 5 6 1 2 | 3 2 1 6 5 3 2i

2️⃣ Lumebu ing ati rasa raharja
🎵 3 2 1 2 | 6 5 6 1 2a

3️⃣ Wengi katon padhangé
🎵 2 1 6 | 5 6 1 2é

4️⃣ Lintang sumunar
🎵 3 2 1 | 6 5u

5️⃣ Sumirat rahsa suci
🎵 5 6 1 2 | 3 2 1 2i

6️⃣ Katresnan tan owah
🎵 6 5 3 | 2 1a

7️⃣ Langgeng selawase
🎵 5 6 1 | 2 3u

8️⃣ Sumrambah donya
🎵 6 5 3 | 2 1a

9️⃣ Gumelaring ati tansah rumeksa tresna
🎵 5 6 1 2 | 3 2 1 6 5 3 2 1i

🔟 Dadi pepadang jiwangga
🎵 3 2 1 | 6 5a


Keterangan:

  • Angka 1–6 = nada gamelan (sléndro: 1 = ji, 2 = ro, 3 = lu, 5 = ma, 6 = nem).

  • Tanda a/i/u/é = nututi guru lagu tembang macapat.

  • Tembung pungkasan saben gatra dipun cocogaken kaliyan guru lagu.

Kisah Anak Gembala yang Sholih

 

Di sebuah desa kecil di kaki gunung, hiduplah seorang anak bernama Hasan. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu ayahnya menggembalakan kambing di padang rumput. Meskipun hidupnya sederhana, Hasan terkenal di desanya sebagai anak yang jujur, sopan, dan rajin beribadah.

Setiap pagi, setelah sholat Subuh, Hasan membawa kambing-kambing keluarganya ke padang rumput. Sambil menggembala, ia selalu membaca Al-Qur’an yang ia bawa di saku bajunya. Ia percaya, membaca ayat-ayat Allah akan membuat hatinya tenang dan rezekinya berkah.

Suatu hari, ketika Hasan sedang beristirahat di bawah pohon rindang, datanglah seorang saudagar kaya dari kota. Saudagar itu sedang kehausan dan lapar karena tersesat di perjalanan. Hasan pun segera memberikan bekalnya, meskipun itu adalah satu-satunya makanan yang ia bawa hari itu.

Saudagar itu kagum dengan kebaikan hati Hasan. Ia lalu mencoba menguji kejujuran anak itu.
“Hasan,” kata saudagar, “jika kau mau, jualkan padaku seekor kambing dari gembalaanmu. Katakan saja pada ayahmu bahwa kambing itu dimakan serigala.”

Hasan menunduk, lalu menjawab dengan tegas,
“Maaf, Tuan. Ayahku mungkin tidak tahu, tapi Allah Maha Tahu. Bagaimana aku bisa berbohong di hadapan-Nya?”

Mendengar itu, saudagar terdiam. Air matanya hampir jatuh. Ia sadar bahwa anak kecil ini memiliki iman yang lebih kuat daripada banyak orang dewasa.

Beberapa bulan kemudian, saudagar itu kembali ke desa Hasan. Ia membawa hadiah seekor sapi, uang, dan beberapa kitab untuk Hasan belajar agama. Ia berkata,
“Hasan, engkau telah mengajarkanku arti kejujuran dan takut kepada Allah. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”

Hasan pun semakin rajin belajar. Bertahun-tahun kemudian, ia tumbuh menjadi seorang ulama dan pemimpin yang adil di desanya, dikenal sebagai “Hasan al-Gembala yang Sholih” — simbol kejujuran dan ketaatan kepada Allah.

Hasan, Anak Gembala yang Sholih

 


Di sebuah desa yang dikelilingi sawah dan gunung hijau, hiduplah seorang anak bernama Hasan.

Hasan tinggal bersama ayah dan ibunya di rumah kecil dari kayu.
Setiap pagi, setelah sholat Subuh, Hasan membantu ayahnya menggembalakan kambing di padang rumput.

Hasan suka sekali mengaji. Ia selalu membawa Al-Qur’an kecil di sakunya.
Saat kambing-kambingnya sedang makan rumput, Hasan duduk di bawah pohon sambil membaca ayat-ayat suci.

Suatu pagi yang cerah…

Hasan sedang beristirahat ketika datang seorang Pak Saudagar dari kota. Pak Saudagar terlihat kehausan dan kelaparan.

Hasan cepat-cepat mengeluarkan bekalnya: sepotong roti dan air minum.
“Silakan, Pak. Ini saja yang saya punya, tapi Bapak boleh memakannya,” kata Hasan sambil tersenyum.

Pak Saudagar terharu, lalu berkata,
“Hasan, maukah kamu menjual satu kambingmu padaku? Bilang saja pada ayahmu kalau kambing itu dimakan serigala.”

Hasan terkejut, lalu berkata dengan mantap:
“Tidak, Pak. Ayah saya mungkin tidak tahu, tapi Allah selalu tahu. Saya tidak mau berbohong.”

Pak Saudagar terdiam. Hatinyapun terasa hangat.
Ia pamit dengan senyum, lalu pergi.

Beberapa bulan kemudian, Pak Saudagar datang lagi.
Kali ini ia membawa seekor sapi, uang, dan buku-buku agama untuk Hasan.
“Hasan,” katanya, “Kau telah mengajariku arti kejujuran. Semoga Allah memberkahi hidupmu.”

Tahun demi tahun berlalu… Hasan tumbuh menjadi ulama yang bijak di desanya.
Semua orang mengenalnya sebagai Hasan al-Gembala yang Sholih.


Pesan untuk Anak-anak:

  1. Selalu jujur, walaupun tidak ada yang melihat.

  2. Takutlah kepada Allah, karena Allah selalu tahu apa yang kita lakukan.

  3. Berbuat baik, maka kebaikan akan kembali kepada kita.

Aku Anak Gembala

Lagu ini dinyanyikan oleh Tasya Kamila penyanyi cilik pada tahun 2013,Berikut liriknya :


Aku adalah anak gembala

Selalu riang serta gembira

Karena aku senang bekerja

Tak pernah malas atau pun lengah

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Setiap hari kubawa ternak

Ke padang rumput di kaki bukit

Rumputnya hijau subur dan banyak

Ternakku makan tak pernah sedikit

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

La la la la la

La la la la la

Aku adalah anak gembala

Selalu riang serta gembira

Karena aku senang bekerja

Tak pernah malas atau pun lengah

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Setiap hari kubawa ternak

Ke padang rumput di kaki bukit

Rumputnya hijau subur dan banyak

Ternakku makan tak pernah sedikit

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Tra la la la la la la la la

Puisi "Langkah Ayah"

"Langkah Ayah"


 Di balik diam dan langkahmu yang tenang,

tersembunyi letih yang tak pernah kau terang,
kau genggam beban tanpa mengeluh,
menjadi benteng di kala kami rapuh.

Ayah,
tatapmu mungkin tak selalu bicara,
tapi setiap kerja kerasmu adalah cinta yang nyata,
kau ukir masa depan dengan keringat dan doa,
walau lelahmu jarang disapa.

Kau ajarkan arti tangguh dalam diam,
menjadi panutan tanpa tuntutan,
menyisipkan harap dalam tiap tindakan,
agar kami tumbuh penuh keyakinan.

Terima kasih, Ayah, atas segalanya,
atas kasih yang tak selalu dengan kata,
kau adalah pelindung yang setia,
pahlawan dalam senyap—penuh makna.

Karya : No Name

Puisi Pelita dalam Hening

"Pelita dalam Hening" 


Ibu,
engkaulah pelita dalam gelapku,
menyinari langkah kala aku ragu,
dengan doa yang tak pernah layu,
kau tuntun jiwaku menuju restu.

Tanganmu lembut, penuh cerita,
tentang luka yang kau sembunyikan dari mata,
agar aku tumbuh tanpa nestapa,
meski hatimu sering tak bersuara.

Dalam dekapmu, dunia menjadi teduh,
hangatmu mengusir segala keluh,
engkau ajarkan arti bersungguh,
meski dirimu sering letih dan luluh.

Wahai Ibu,
takkan cukup kata menebus jasamu,
hanya doa yang bisa kutitip padamu,
semoga surga selalu dekat denganmu.


Karya : No Name

Keberanian Seekor Domba Bernama Lilo

Di sebuah padang rumput hijau yang luas, hiduplah seekor domba kecil bernama Lilo. Ia berbulu putih bersih dan bertanduk kecil yang belum tumbuh sempurna. Lilo tinggal bersama kawanan domba lain dan dijaga oleh anjing gembala bernama Goro.


Lilo sering merasa takut. Ia takut tersesat, takut suara angin, bahkan takut pada bayangannya sendiri. Domba-domba lain kadang menertawakannya, tapi Goro selalu berkata, “Keberanian bukan berarti tidak takut, tapi berani meski sedang takut.”

Suatu hari, saat kawanan domba sedang merumput, awan gelap datang, angin bertiup kencang, dan hujan turun deras. Dalam kebingungan, seekor anak domba terjatuh ke sungai kecil yang mulai meluap.

Semua panik. Tak ada yang berani mendekat ke sungai. Tapi Lilo, meskipun gemetar, berlari ke tepi sungai. Ia menggapai ranting dan menjulurkannya ke anak domba yang hampir hanyut.

Dengan susah payah, Lilo menariknya ke daratan. Semua domba terkejut dan bersorak senang. Goro datang dan menepuk Lilo dengan bangga.

“Kau sudah jadi domba kecil yang berani,” kata Goro.

Sejak hari itu, Lilo tidak pernah meragukan dirinya lagi. Ia tahu, walaupun kecil dan penakut, ia bisa melakukan hal besar jika mengikuti kata hatinya.


Lirik Lagu Sorak-sorak bergembira

Sorak-sorak bergembira

Bergembira semua

Sudah bebas neg'ri kita

Indonesia merdeka

Indonesia merdeka (merdeka)

Republik Indonesia (Indonesia)

Itulah hak milik kita

Untuk s'lama-lamanya

Sorak-sorak bergembira

Bergembira semua

Sudah bebas neg'ri kita

Indonesia merdeka

Indonesia merdeka (merdeka)

Republik Indonesia (Indonesia)

Itulah hak milik kita

Untuk s'lama-lamanya

Ramadhan, Bulan Penuh Berkah

Ramadhan datang, penuh sinar cahaya,

Menyinari hati, menghapus duka,

Dalam heningnya malam yang penuh doa,

Kita bersujud, mencari ridha-Nya.


Lapar dan dahaga menjadi penawar,

Mengasah sabar, menjemput maaf-Nya,

Setiap langkah penuh makna dan harap,

Mendekatkan diri, dalam ibadah yang tulus.


Tangan-tangan yang memberi, hati yang berbagi,

Ramadhan mengajarkan arti sesungguhnya,

Bersyukur atas nikmat yang tak terhingga,

Dan merasakan derita saudara seiman.


Setiap malam, Al-Qur’an dibaca,

Tenteramkan jiwa, hadirkan cahaya,

Semoga Ramadhan ini penuh makna,

Membawa kita pada kemenangan-Nya.


Selamat menjalankan ibadah puasa,

Semoga Ramadhan membawa berkah,

Hati yang bersih, jiwa yang lapang,

Kita raih kemenangan yang abadi. 

Kisah Dewi Sri

Dewi Sri adalah dewi yang sangat dihormati dalam budaya Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, yang dikenal sebagai dewi padi dan kesuburan. Kisah Dewi Sri menyentuh kehidupan manusia, karena ia dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan yang diperoleh dari hasil bumi, khususnya padi yang menjadi sumber utama pangan.

Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang subur, hiduplah seorang putri cantik bernama Dewi Sri. Dewi Sri bukan hanya dikenal karena kecantikannya, tetapi juga karena kebaikan hati dan kekuatan magis yang dimilikinya. Dewi Sri adalah putri dari Dewi Sriwati, seorang dewi kesuburan yang memerintah kerajaan langit, dan Dewa Brama, penguasa dunia manusia.

Namun, sebuah peristiwa besar terjadi ketika Dewi Sri jatuh cinta kepada seorang pemuda bernama Jaya, seorang pemuda yang sederhana namun tampan dan bijaksana. Mereka saling mencintai, meskipun ada banyak perbedaan antara keduanya. Jaya adalah petani muda yang berusaha keras menanam padi untuk memberi makan kepada rakyatnya. Namun, meskipun ia bekerja sangat keras, hasil ladangnya sering gagal karena bencana alam dan kekeringan yang melanda desa mereka.

Dewi Sri melihat kesulitan Jaya dan merasa kasihan. Suatu hari, dengan kekuatan magisnya, Dewi Sri turun dari langit untuk menemui Jaya di ladangnya. Ia memberinya biji padi yang sangat istimewa, yang bisa tumbuh subur di lahan mana pun, bahkan dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun. Dewi Sri mengatakan, "Jika kamu menanam biji padi ini dengan penuh kasih sayang dan dedikasi, maka hasilnya akan melimpah ruah dan rakyatmu akan sejahtera."

Jaya mengikuti petunjuk Dewi Sri dan mulai menanam biji padi tersebut. Dalam waktu singkat, ladang yang sebelumnya gersang berubah menjadi hamparan padi yang hijau dan subur. Hasil panennya melimpah, dan desa mereka menjadi makmur. Semua orang yang tinggal di sana merasa bahagia dan bersyukur atas karunia yang diberikan Dewi Sri.

Namun, meskipun Dewi Sri dan Jaya hidup bahagia bersama, tak lama kemudian sebuah tragedi datang. Dewi Sri yang berasal dari dunia langit harus kembali ke tempat asalnya, karena tugasnya sebagai dewi kesuburan di kerajaan langit belum selesai. Sebelum pergi, Dewi Sri berjanji kepada Jaya bahwa dia akan selalu melindungi mereka, dan hasil padi akan tetap melimpah selama mereka menjaga kesuburan tanah dengan baik.

Dewi Sri akhirnya kembali ke langit, tetapi kisahnya tetap hidup di hati rakyat. Di setiap musim tanam, mereka mengenang Dewi Sri dengan upacara dan doa agar hasil padi tetap subur. Padi yang mereka tanam adalah simbol cinta dan pengorbanan Dewi Sri untuk kehidupan mereka.

Sejak itu, Dewi Sri tidak hanya dikenal sebagai dewi padi dan kesuburan, tetapi juga sebagai lambang cinta yang tulus dan pengorbanan. Kisahnya mengajarkan manusia tentang pentingnya menjaga hubungan dengan alam dan saling berbagi untuk kesejahteraan bersama. Hingga kini, Dewi Sri tetap dihormati dan diingat dalam setiap ritual pertanian, sebagai pengingat bahwa berkat dan kemakmuran datang dari tanah yang subur dan hati yang penuh kasih.

Demikianlah kisah Dewi Sri yang menjadi legenda abadi dalam budaya Indonesia.

Lirik Lagu Kereta Malam - Elvy Sukaesih

Pernah sekali aku pergi

Dari Jakarta ke Surabaya

Untuk menengok nenek di sana

Mengendarai kereta malam

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Kereta berangkat

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Hatiku gembira

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Kereta berangkat

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Hatiku gembira

Kebetulan malam itu cuacanya terang bulan

Kumelihat kiri kanan oh indahnya pemandangan

Sayang tak lama kantukku datang

Hingga tertidur nyenyak sekali

Wahai ketika aku terbangun

Rupanya hari pun sudah pagi

Hingga tiada aku sadari

Aku telah tiba di Surabaya

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Kereta berhenti

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Hatiku gembira

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Kereta berhenti

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Hatiku gembira

Kebetulan malam itu

Cuacanya terang bulan

Ku melihat kekiri kanan

Hai indahnya pemandangan

Sayang lama kantukku datang

Hingga tertidur nyenyak sekali

Wahai ketika aku terbangun

Rupanya hari pun sudah pagi

Hingga tiada aku sadari

Aku tlah tiba di Surabaya

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Kereta berangkat

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Hatiku gembira

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Kereta berangkat

Jug gicak gicuk gicak gicuk

Hatiku gembira