Pada zaman dahulu, di sebuah desa yang subur di tanah Jawa, hiduplah seorang pemuda bernama Joko Umbaran. Ia bukan bangsawan, bukan pula orang kaya. Joko hanyalah anak seorang petani miskin yang hidup sederhana di pinggir hutan. Namun, di balik kesederhanaannya, Joko dikenal sebagai pemuda yang jujur, ringan tangan, dan berani membela kebenaran.
Sejak kecil, Joko terbiasa hidup prihatin. Ia membantu ayahnya di sawah dan ibunya mencari kayu bakar. Meski hidup serba kekurangan, Joko tidak pernah mengeluh. Ia percaya bahwa urip iku mung mampir ngombe, hidup hanyalah singgah sejenak untuk berbuat baik.
Ujian Kehidupan
Suatu hari, desa tempat Joko tinggal dilanda kekeringan panjang. Sungai mengering, sawah retak, dan hasil panen gagal total. Kepala desa yang serakah justru memanfaatkan keadaan. Ia menimbun bahan makanan dan memeras rakyat kecil.
Melihat penderitaan warga, Joko Umbaran tidak tinggal diam. Ia berkeliling desa, menguatkan hati rakyat, dan diam-diam membantu mereka yang kelaparan. Namun, perbuatannya sampai ke telinga kepala desa.
“Pemuda itu harus disingkirkan,” pikir sang kepala desa.
Dengan licik, Joko difitnah sebagai penghasut rakyat dan diusir dari desa.
Pengembaraan Joko Umbaran
Dengan hati tegar, Joko meninggalkan desanya. Ia mengembara dari hutan ke gunung, dari padepokan ke padepokan. Dalam pengembaraannya, Joko banyak belajar tentang ilmu kanuragan, laku prihatin, dan kebijaksanaan hidup dari para resi dan pertapa.
Suatu malam, di sebuah goa sunyi, Joko bertapa selama 40 hari 40 malam. Ia tidak meminta kekayaan atau kekuasaan, melainkan memohon agar diberi kekuatan untuk menolong sesama dan menegakkan keadilan.
Konon, tapa brata Joko diterima. Ia dianugerahi kesaktian yang membuatnya kebal terhadap niat jahat dan diberi kewibawaan yang besar.
Kembalinya Sang Pembela Rakyat
Beberapa tahun kemudian, Joko Umbaran kembali ke desanya. Desa itu kini semakin menderita di bawah kepemimpinan yang lalim. Dengan keberanian dan kebijaksanaannya, Joko menghadapi kepala desa.
Tanpa kekerasan berlebihan, Joko membuka kedok kejahatan sang pemimpin di hadapan rakyat. Kepala desa akhirnya dilengserkan, dan rakyat memilih Joko Umbaran sebagai pemimpin baru.
Namun, Joko menolak hidup mewah. Ia tetap hidup sederhana, dekat dengan rakyat, dan selalu mengingatkan:
“Kuwasa iku titipan, dudu duweke dhewe.”
(Kekuasaan itu titipan, bukan milik pribadi.)
Akhir Kisah
Di akhir hayatnya, Joko Umbaran menghilang secara misterius. Ada yang percaya ia moksa, ada pula yang mengatakan ia kembali mengembara untuk menolong desa-desa lain.
Nama Joko Umbaran pun dikenang sebagai simbol:
-
keberanian rakyat kecil,
-
kejujuran dalam kepemimpinan,
-
dan keteguhan hati dalam menghadapi ketidakadilan.


0 Comments so far »
Leave a comment