Pada masa kejayaan Kerajaan Kediri (abad ke-11–13 M), masyarakat Kediri dikenal sebagai penganut Hindu–Buddha yang kuat. Sungai Brantas menjadi urat nadi kehidupan—jalur perdagangan, budaya, dan peradaban. Justru dari jalur inilah benih Islam perlahan masuk ke Tanah Kediri.
Awal Kedatangan Islam
Sekitar abad ke-14 hingga ke-15 M, para pedagang Muslim dari Gujarat, Arab, dan pesisir Nusantara mulai singgah di wilayah Kediri melalui jalur Sungai Brantas. Mereka tidak hanya berdagang rempah, kain, dan logam, tetapi juga membawa akhlak, tata hidup, dan ajaran Islam yang ramah.
Penduduk Kediri tertarik bukan karena paksaan, melainkan karena:
-
Kejujuran para pedagang Muslim
-
Kesederhanaan hidup
-
Ajaran tauhid yang mudah dipahami
-
Sikap toleran terhadap budaya lokal
Islam pun mulai diterima oleh masyarakat pesisir sungai dan pusat-pusat perdagangan.
Peran Ulama dan Dakwah Kultural
Masuknya Islam semakin kuat ketika para ulama dan wali mulai berdakwah dengan pendekatan budaya. Salah satu tokoh penting yang berpengaruh di wilayah Kediri adalah Syekh Al-Wasil Syamsudin, yang dipercaya sebagai tokoh awal penyebar Islam di daerah ini.
Dakwah dilakukan melalui:
-
Seni dan tradisi lokal
-
Bahasa Jawa halus
-
Pengajian kecil di rumah-rumah
-
Keteladanan akhlak
Tradisi lama tidak dihapus, melainkan diislamkan. Upacara adat, tembang, dan simbol-simbol Jawa diberi makna Islami. Inilah yang membuat Islam cepat diterima tanpa konflik.
Masa Runtuhnya Majapahit
Runtuhnya Majapahit pada akhir abad ke-15 menjadi titik balik penting. Banyak bangsawan dan rakyat di wilayah Kediri yang kemudian memeluk Islam. Kekuasaan politik beralih ke kerajaan-kerajaan Islam di pesisir utara Jawa, seperti Kesultanan Demak, yang turut memberi pengaruh ke wilayah pedalaman, termasuk Kediri.
Kediri kemudian berkembang sebagai:
-
Pusat pendidikan Islam
-
Wilayah santri
-
Daerah yang kuat memegang tradisi keislaman bercorak Jawa
Jejak Islam di Kediri
Hingga kini, jejak masuknya Islam di Kediri dapat dilihat dari:
-
Makam-makam ulama kuno
-
Pesantren-pesantren tua
-
Tradisi selamatan, tahlilan, dan kenduri
-
Julukan “Kediri Kota Santri”
Islam di Kediri tumbuh sebagai agama yang menyatu dengan budaya, membentuk karakter masyarakat yang religius, santun, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Kesimpulan
Masuknya Islam di Tanah Kediri bukan melalui pedang, melainkan melalui perdagangan, budaya, dan keteladanan akhlak. Inilah warisan berharga yang menjadikan Kediri hingga kini dikenal sebagai daerah religius yang damai dan berbudaya.

0 Comments so far »
Leave a comment